(Rentetan peristiwa mengagumkan ini terjadi bulan Februari 2011, pen)
Omong punya omong, jadi sekitar tiga minggu lalu, saya berhasil cuti. Dan ini jatah cuti tahun 2010 ajuah gitchu *karyawan (sok) rajin ceritanya*. Tapi tak cuma sendirian, saya cutinya berbarengan dengan si teman satu tim yang keren bernama: Metalipoa. Dan kita kemanaaaaaaaa? RAJA AMPAT dong ah.
Mari kita kembali ke belakang sebentar. Saya udah pernah cerita dong ya pastinya, kalo saya nggak tipe deh bikin-bikin resolusi-resolusi taun baru atau ulang taun. Intinya hidup saya ini mengalir saja. Apa-apa yang jatuh di tangan dikerjain sebaik-baiknya, terus nyari2nyari peluang apapun tanpa ada banyak target muluk-muluk. *plis jangan ditiru atau dihina ini memang prinsip kurang ambisiyuss yang saya nggak suka dari diri saya*
Tapi eh tapi, tahun ini kemarin, saya bikin resolusi dong! ikut tren, biasa. Tapi, kalo orang-orang bikin resolusi semacam: harus dapet promosi 3x tahun ini, harus punya temen FB 2000 dalam waktu sebulan, harus dapet follower melebihi Dewi Lestari di twitter, harus tenar dan populer dan kaya negelewatin Nia Ramadhani, ataupun harus kawin *ciyee ini nyepet diri sendiri*, kalo saya bikin resolusi berupa: saya harus jalan-jalan kemana ajuah tahun ini *again, sangat tidak ambisiyus* Dan salah satunya adalah: RAJA AMPAT ini teman-teman.
Tadinya, setelah si resolusi-resolusi tea, saya lihat-lihat video youtube dengan maksud dan tujuan untuk bikin diri ini tambah ngiler dan bertekad harus sampe di Raja Ampat meski harus jalan kaki sekalipun *berlebihan, emang Raja Ampat jaraknya Jakarta-Bogor?* Ternyata, si pacar yang suka ku sebut-sebut itu *nama twitternya @dhwicaks (yg nggak terlalu gue approve, karena duileh jawa banget)* dapet penugasan ke Papua. Dan bersama teman-teman kerjanya yang beruntung itu, selesai kerja mereka akan 'mampir' ke Raja Ampat. Saya langsung cemburu kesumat! Ini sama sekali nggak bisa dibiarkan sodara-sodara!! Saya yang bikin-bikin resolusi, yang posting-posting video youtube di FB, yang sok nyari2 tiket, nanya-nanya soal kapal ke temen-temen yang pernah kesana, kenapa diana yang malah ketiban kerjaan ke sana??? Nggak rela pokoknya.
Berlatar belakang kecemburuan sosial mendadak ini, saya mulai mencecar si pacar: 'kalo gue ikut gimandrong?' Ternyata nggak susahlah ya karena dia memang ingin berlibur bersama kekasihnya yang keren tiada tara ini, hihi. Dan saya pun boleh lah membawa sesiapapun yang mau ikut serta, dengan syarat asal mereka fabulous juga kayak saya ini *ditampar keyboard*.
Tapi karena satu dan lain hal, saya memang nggak bilang juga sih, perihal rencana liburan ke ujung Indonesia ini ke khalayak ramai, untuk emnghindarkan diri ini dari gosip-gosip tak mengenakkan dan berakibat mencemarkan nama baik *ini apa sih sebenernya*.
Pergilah saya ke Raja Ampat, nyusul sang pacar, bersama teman (fabulous) saya, Metalipoa. Uda kayak di film belommmmm penonton? *tolong jangan dijawab* Kita berangkat dengan penerbangan malam, supaya nyampe sana pagi. Boong ding, pertimbangan kita memilih ni penerbangan cuma kerana ya ini yang paling murah. Jakarta-Sorong kita tempuh dalam waktu errrr, berapa lama ya lupa, abis ni penerbangan pake delay beberapa jam, ditambah kita harus transit di Surabaya dan Makassar terlebih dahulu. Cape transit deh pokoknya kitorang.
Nyampe di Sorong, kita sudah dikasi tau nginep dimana, iaitu di Hotel Waigo yang letaknya di lokasi paling hitzz di seantero Sorong. Tempat anak-anak gaul nongkrong lah, setara sama apa ya di Jakarta, maap sih bukan anak gaul juga jadi bingung cari perumpamaan. Senayan kali ya? apa Grand Indonesia? apa Hailai *Halaaahhhh ini mah terlalu jadul ketauan umurnya*. Intinya, lokasi ini namanya Tembok Berlin. Jadi buat yang mau liat Tembok Berlin nggak usah bingung deh, negara kita juga punya ;)
Karena satu dan lain hal lagi, ternyata bukan semalam, kita harus nginep di Sorong selama dua malam. Tadinya saya pikir, nggak apa-apa lah yah, kan kita bisa pesiar di Sorong dulu, ke pantai-pantai sana, kan pasti masih bagus lah ya. Papua gitu loh. jadi hari pertama di Sorong saya habiskan dengan bobo-bobo dulu di hotel *pelancong macam apa ini*, trus makan bakso yang ternyata nggak semahal yang saya kira sebelumnya-- maklum, cerita horor mengenai mahalnya life style di Papua ini sudah tersohor ke seantero Indonesia. Selesai makan bakso yang letak gerobaknya memang di sekitar Tembok Berlin ini, kita nongkrong-nongkrong lagi sampe maghrib, lalu kemudian lanjut makan seafood deket pelabuhan yang di sekitaran Tembok Berlin ini juga. Penasaran ga sih looo, sama magnet yang namanya Tembok Berlin ini? Tembok Berlin yang dimaksud ini, intinya cuma setinggi 1 meter lebih sedikit. Kalo lagi nongkrong di sini, ya duduknya di temboknya ini sendiri, hihi.
Penampakan pantai dari Tembok Berlin
Si gadis (sok) petualang memandangi lautan, sambil duduk DI Tembok Berlin
Day two. Saya harus mencambuk jiwa petualang saya untuk TIDAK tinggal di hotel doang. Bangun pagi, jelajah Sorong! ciyeh. Dengan semangat revolusi, kita turun ke bawah, sarapan, trus tanya-tanya resepsionis hotel enaknya kemana dan sewa ojek berapa. *nggak ketulungan deh pemalasnya duo liburan ini, spot sasaran nggak ada apalagi itinerary* *gemeeesshhh deh*
Lalu usut punya usut, seperti yang pernah di googling sebelumnya (meski males, saya memang sempat cari tahu *dikit* biar nggak buta-buta banget), kita ditunjuk ke Pantai yang bernama Tanjung Kasuari. Kata si mbak dan mas di resepsionis, tempatnya jauh beet, jadi nggak ada angkot. With ojek, off we go!
Ternyata kita cuma butuh waktu sekitar 20 menit buat sampe. Jalan aspalnya nggak mulus memang, tapi di jalan kita sempet ketemu angkot yang masuk, cuma memang jarang banget. Tapi hawanya suejuk deh waktu itu, karena malamnya habis hujan deras. Jadi Pantai Kasuari ini lucu deh. Tiap beberapa ratus meter, ada pagarnya, yang menandai tiap pengelola pantai. Ada juga bagian yang dikelola sama Pemda, tapi kebanyakan swasta.
Waktu di Jakarta ketika masih mengkhayal bakal ngapain di Sorong, saya pikir saya akan jalan-jalan aja keliling kota, ngeliatin pantainya yang pastinya masih bagus karena IT'S PAPUA, for gods sake. Pantai yang di depan hotel, di sekitar Tembok Berlin sudah jelas mengecewakan karena warnanya agak buram begitu, meski nggak separah pantai Marina ya, tentunya. Jadi Tanjung Kasuari, kepadanya harapan kutibankan. Nyampe sana, ternyata harus nelen ludah lagi, karena pantainya kotorrrrr. Terlebih waktu itu Senin, setelah hari Sabtu-Minggunya banyak warga lokal dan mungkin juga turis domestik yang piknik di sini. Sampahnya banyak banget :(
Senyum tapi hatinya menangis itu.
No comments:
Post a Comment