Sunday, December 13, 2009

It takes a life time to say 'Thank You God, for this life'

Belakangan ini, saya seringkali mendapat pertanyaan dan pernyataan yang bermakna kurang lebih sama. Berkaitan dengan pekerjaan (baca: liputan) saya yang seringkali memberikan kesempatan pada saya untuk terbang ke luar Indonesia. Umumnya, bunyinya akan seperti ini: “Enak banget sih lo?”, atau “Gilak jalan-jalan mulu?”, atau “Buset, lama juga ya, asik dong”. Dan saya juga akan menjawab dengan kata-kata yang hampir selalu senada “Ya ampun bok, gue kagak liburan kali,” atau “Iya sih, enak bisa menjejak tempat-tempat baru, tapi capeknya nggak ketulungan,”, “Liputan gue bukan jalan-jalan, nggak ke tempat-tempat bagus deh,”. Jadi bukan pertanyaannya saja yang mulai menyebalkan, tapi juga jawaban saya.

Dari penampakan muka saya, saya tahu banyak yang pasti langsung berasumsi bahwa saya itu keras, tegar, tahan banting, you name it! Padahal nyatanya tidak begitu. Sama sekali tidak begitu. Jika saja kamu pacar saya, teman dekat saya, teman-teman kerja yang terpaksa untuk manghabiskan waktu berpuluh-puluh hari bersama saya, maka kamu akan tahu bahwa saya seorang Complainer Sejati, Pengeluh Sejati, Penggerutu Sejati. Selalu saja ada yang salah, selalu saja ada yang kurang, selalu saja ada seharusnya, atau tapi, dalam hal apapun.

Betapapun saya banting tulang untuk mengerjakan sesuatu, saya pasti akan menemukan cara untuk menghukum diri sendiri karena tidak bekerja lebih keras dan lebih maksimal. Ihh, pokoknya benar-benar tidak bisa menikmati hidup deh. Karena saat malam saya biasanya akan meluangkan beberapa waktu untuk menyesali diri sendiri. Saya sampai berpikir kadang-kadang, saya mungkin mulai mengidap kelainan jiwa karena tidak pernah bisa merasa puas.

Benak saya agak dipenuhi oleh pekerjaan belakangan, jadi saya akan tetap bercerita tentang itu. Saya tidak pernah merasa puas dengan hasil yang saya peroleh. Meski misalnya, semua sasaran yang ditargetkan sudah bisa dicapai.

Padahal, FYI, saya sebenarnya sedang menjalani pekerjaan yang sejak dulu menjadi impian saya, dan dengan sebegitu cintanya saya terhadap pekerjaan ini saja, tetap saja saya mengeluh tentang misalnya, masalah kantor yang sepertinya kurang ini kurang itu, saya yang kurang ini kurang itu, bos yang kurang ini kurang itu.

Kapan ya, saya bisa benar-benar bisa kenalan sama makna kata ‘syukur’?

Belum lagi keluhan-keluhan ketika mendengar banyak teman-teman sekelas, sebaya yang sepertinya sudah meniti karir jauh di atas langit, sementara saya begini-begini saja. Sudah untung saya tidak menganggap menikah satu pencapaian juga, kalau tidak saya bisa gila karena tampaknya teman-teman saya kalau tidak menikah, ya sedang hamil, atau tunangan, atau mau menikah.

Dan lebih parahnya lagi, saya juga tak terlalu suka didorong-dorong dan dikritik-kritik terlalu berlebihan cuma karena saya merasa saya sudah mengkritik diri saya sendiri di bagian itu, atau saya tidak perlu didorong-dorong terlalu jauh karena tanpa didorong-dorong pun, saya rasanya sudah memecut diri sendiri untuk melakukan yang paling maksimal.

Tapi ya tetap saja saya banyak gagalnya, haha.

Teman saya pernah berkomentar tentang ini. Katanya: “Ya kalo lo sudah merasa all out, ya udah,”. Pernyataan yang sbenarnya sempat menentramkan hati saya beberapa detik, sampai akhirnya saya pikir, ‘all out?’, perasaan saya belum pernah all out deh, karena sepertinya selalu kurang gede usahanya. Ha!

No comments:

Post a Comment